Blog image

Berobat.co.id- Setelah dibahas bahwa kualitas tidur yang cukup mampu meningkatkan kesehatan, maka yang terjadi kini sebaliknya. Sebuah penelitian di Amerika Serikat melansir bahwa terlalu banyak tidur berhubungan dengan tingkat dimensia pada seseorang. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Sudha Seshadri, Professor neurologi di Boston University School of Medicine (BUSM) dan dipublikasi pada journal Neurology.

Sejumlah 5209 wanita dan pria dengan rentang usia 30-62 tahun yang tinggal di kota Framingham menjadi subjek penelitian. Tujuan awal dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor resiko untuk penyakit jantung, namun beberapa dari mereka melaporkan tentang kebiasaan tidur dan durasi yang tidak normal. Karena itu penelitian ini mengikuti subjek penelitian selama 10 tahun dan dipantau secara klinis kesehatannya.

Penelitian ini menyatakan bahwa tidur selama lebih dari 9 jam meningkatkan resiko terjadinya demensia dua kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun. Selain itu, didapatkan hasil bahwa orang-orang yang tidur lebih lama cenderung memiliki volume otak yang lebih kecil. Secara observasional studi ini sebetulnya bukan perihal sebab akibat, akan tetapi para peneliti menduga bahwa tidur yang berkepanjangan merupakan sebuah gejala yang mengarah pada penyakit demensia. Meskipun begitu, mengurangi waktu tidur bukanlah hal yang mampu menurunkan faktor resiko demensia.

Demensia adalah penyakit yang berkaitan dengan Alzheimer, biasanya penyakit ini diderita oleh manula. Namun tidak ada salahnya untuk mengetahui hal-hal yang menyertai penyakit ini, termasuk durasi tidur yang lama. Seseorang yang memiliki durasi tidur yang lebih panjang dan tidak normal, berpotensi memiliki faktor resiko yang besar. Memperhatikan kebiasaan dan durasi tidur adalah hal yang sungguh patut dicermati. Lebih cepat dalam mengetahui gejala-gejala demensia juga akan semakin membantu penderita untuk sembuh dan membuat keputusan penting demi kesehatan mereka. (dan/ang)

Sumber :medicalnewstoday.com

0 Komentar

Tinggalkan Komentar